Polling Bulan Ini

Bagaimanakah PBM semester Gasal 2015 - 2016

sangat baik
Baik
Cukup
Kurang baik

Lihat Hasil Polling
Download Terbaru
Hubungi Kami
  • Untuk info lebih lanjut, silahkan hubungi kami via YM.

  • Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Ibu dalam Pemberian MP?ASI Dini di Desa Jungsemi Kecamatan Kangkung Kabupaten Kendal
    Artikel tutorial - Kategori PSIK | Diposting pada : 2015-11-12 -|- 11:59:am
    Share this article on

    “ Faktor-faktor  yang  Mempengaruhi   Perilaku  Ibu  dalam Pemberian MP–ASI Dini di Desa Jungsemi Kecamatan Kangkung Kabupaten Kendal” 


    "Factors Affecting Behavior Giving Women in Early complementary feeding in the Village District Jungsemi Kangkung Kendal"


     


    Eka Lestari*, Yuni Puji Widiastuti**, Kunsianah***, Nurul Qomariyah****


     


    *Alumni PSIK STIKES Kendal


    **Staf edukatif PSIK STIKES Kendal (Kontak Person: 085868274715)


    *** Staf edukatif PSIK STIKES Kendal


    **** Perawat Maternitas RSUD dr. H. Soewondo Kendal


     


    Abstrak: Untuk membentuk individu yang berkualitas dapat dimulai sejak bayi dalam kandungan disertai dengan pemberian ASI sejak usia dini terutama pemberian ASI eksklusif kepada bayinya. Namun masih banyak ibu-ibu yang memberikan MP ASI dini kepada bayinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian MP-ASI dini. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi dengan menggunakan rancangan Crosectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi usia 0 – 6 bulan. Sampel sebanyak 43 responden sesuai dengan Kriteria inklusi dan eksklusi. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisa data yang digunakan adalah analisa univariat, analisa bivariat melalui chi-square. Berdasarkan penelitian diperoleh hasil 13(30,2%)  responden mempunyai pengetahuan baik, sedangkan 23(53,5%) mayoritas berpendidikan dasar, status pekerjaan responden mayoritas ibu rumah tangga 19(44,2%),  responden yang mengikuti tradisi 24(55,8%) dan umur responden <20 tahun sebanyak 23(53,5%) dini. Dari hasil uji statistik terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan, tradisi, dan dukungan keluarga. Sedangkan pendidikan tidak berhubungan dengan perilaku ibu dalam pemberian MP-ASI dini. Dari hasil penelitian ini di sarankan adanya penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya ketepatan pemberian MP-ASI sehingga perilaku masyarakat menjadi lebih baik.


    Kata kunci     : perilaku,MP-ASI


    Daftar Pustaka :  (2002-2012)


    Abstract: To establish a qualified individual to start as a baby in the womb along with breastfeeding at an early age, especially exclusive breastfeeding their babies. But there are still many mothers who deliver their babies early complementary feeding. This study aims to determine the factors that influence maternal behavior in the provision of early complementary feeding. This research is descriptive correlation using Crosectional design. The population in this study were all mothers with infants aged 0-6 months. Sample of 43 respondents in accordance with the inclusion and exclusion criteria. The data collection technique using a questionnaire. Analysis of the data used are univariate, bivariate analysis by chi-square. Based on the research results 13 (30.2%) of respondents had a good knowledge, while 23 (53.5%) the majority of elementary education, employment status housewife majority of respondents 19 (44.2%), respondents who followed the tradition of 24 (55 , 8%) and respondents aged <20 years by 23 (53.5%) early. From the test results statistically significant relationship between knowledge, tradition, and family support. While education was not associated with maternal behavior in the provision of early complementary feeding. From the results of this study suggest the existence Educate the public about the importance of accuracy giving MP-ASI so that people's behavior for the better


    .
    Keywords: behavior, MP-ASI


    References: (2002-2012)


     


    PENDAHULUAN


           Millennium Development Goals (MDGs) adalah Deklarasi Milenium hasil kesepakatan kepala negara dan perwakilan dari 189 negara Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang mulai dijalankan pada September 2000, berupa delapan butir tujuan untuk dicapai pada tahun 2015.Tujuan MDGs yang ke 4 yaitu menurunkan angka kematian anak ( Utomo, 2007 ).


           Angka kematian balita menurun dari 97 per 1.000 pada tahun 1989 menjadi 46 pada tahun 2000 atau rata-rata penurunan 7% per tahun. Selanjutnya untuk mencapai target angka kematian balita 30 per 1000 pada tahun 2015 diperlukan rata-rata penurunan 3% per tahun. Walaupun dikatakan menurun, angka kematian bayi di Indonesia masih tinggi dibanding dengan beberapa negara ASEAN seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand (Utomo, 2007). Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia saat ini 35 per 1000 kelahiran hidup. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat tidak kurang dari 10 bayi dan anak balita meninggal dunia setiap jam di Indonesia (dikutip dari Nanik, 2009).


     Adapun penyebab utama kematian anak masih didominasi oleh penyakit infeksi, terutama diare dan Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), yang terkait dengan gangguan gizi ( Utomo,2007). Menurut Direktur Eksekutif Koalisi untuk Indonesia Sehat (KuIS) Taufik O Malik, diare merupakan penyakit nomor dua mematikan pada anak-anak di Indonesia setelah infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Kebanyakan menganggap penyakit ini sebagai hal biasa, tidak mematikan, dan sering disepelekan. Padahal, penyakit ini sangat serius. Ini yang harus bisa dihindari, terutama masalah-masalah yang menyangkut kebiasaan, higienitas, dan lingkungannya, Menurutnya, soal kebiasaan, kebersihan, dan lingkungan sangat tergantung pada masyarakat sendiri. Yang penting adalah mengubah perilaku yang ada menjadi perilaku sehat. Ada sejumlah perilaku yang dapat menyebabkan penyebaran kuman penginfeksi dan meningkatkan risiko diare, antara lain tidak  memberikan ASI secara penuh pada bayi, menggunakan susu botol yang tidak   bersih, penyimpan makanan masak pada suhu kamar dan pemberian Makanan Pendamping ASI secara dini ( Republika,  2004).


    ASI adalah makanan bayi yang paling sempurna baik kualitas maupun kuantitas. Pada  tahun 2002 WHA  merekomendasikan 4 hal penting yang harus dilakukan, antara lain : memberikan ASI kepada bayi atau proses menyusui (IMD) dimulai secepatnya setelah bayi lahir, memberikan ASI saja atau pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan, memberikan makanan pendamping ASI sejak bayi berusia 6 bulan, dan meneruskan pemberian ASI sampai anak berusia 24 bulan atau lebih (Roesli, 2012). Memberikan ASI berarti memberikan zat-zat yang bernilai tinggi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan syaraf dan otak, memberikan kekebalan terhadap penyakit dan mewujudkan ikatan emosional antara ibu dan bayinya (Depkes, 2005). Bagi ibu, memberikan ASI Eksklusif dapat mengurangi perdarahan saat persalinan, menunda kesuburan dan meringankan beban ekonomi ( Proverawati, 2009).


    Walaupun memiliki banyak keuntungan, masih banyak ibu yang memilih untuk tidak menyusui bayinya. Adapun factor yang mempengaruhi ibu untuk menyusui ditentukan oleh informasi tentang keuntungan pemberian ASI; dukungan fisik dari pasangan dan anggota-anggota keluarga dan dukungan sosial dari lingkungan masyarakat sekitar; persepsi/sikap dan norma keluarga, terutama pasangan terhadap praktik menyusui; kondisi demografis dan ekonomis ibu; dan promosi atau tekanan-tekanan komersial. Tekanan-tekanan komersial oleh produsen-produsen makanan bayi terhadap praktik pemberian ASI direncanakan sedemikian rupa untuk mendapatkan keuntungan besar. Ini membuat pemasaran formula bayi dilakukan secara tidak etis. Misalnya, contoh-contoh (samples) formula bayi disediakan di tempat-tempat praktik dokter dan bidan dan pada ‘discharge’ rumah sakit, yang mendorong pemisahan ibu dari bayinya, mengurangi “kepercayaan ibu bahwa ia mampu menyusui”, dan memperbesar pemberian MP-ASI dini (Sanyoto-Besar et al., 2004).


    Pemberian MP-ASI terlalu dini, justru berisiko bagi bayi. Pemberian MP-ASI terlalu dini akan membuat bayi menganggap makanan itu sebagai pengganti ASI. Ini akan membuat bayi enggan menyusu lagi sehingga asupan gizinya lebih rendah, rentan sakit serta meningkatkan risiko ibu hamil lagi ( Soraya, 2005).


    Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia ( SDKI ) tahun 2002-2003, diperoleh data jumlah pemberian ASI eksklusif pada bayi di bawah usia 2 bulan hanya mencakup 64% dari total bayi yang ada. Persentase tersebut menurun seiring dengan bertambahnya usia bayi yakni 46% pada bayi usia 2-3 bulan, 14% pada bayi usia 4-5 bulan, dan yang lebih memprihatinkan lagi 13% bayi di bawah usia 2 bulan telah diber susu formula dan 1 dari 3 bayi usia 2-3 bulan telah diberi makanan tambahan (Rahmah, 2011).


    Pemberian MPASI dini sama saja dengan membuka pintu gerbang masuknya berbagai jenis kuman. Belum lagi jika tidak disajikan higienis. Hasil riset terakhir dari peneliti di Indonesia menunjukkan bahwa bayi yang mendapatkan MP - ASI sebelum ia berumur 6 bulan, lebih banyak terserang diare, sembelit, batuk-pilek, dan panas dibandingkan bayi yang hanya mendapatkan ASI eksklusif (Soraya, 2005). Sedangkan menurut Direktur Bina Gizi masyarakat Departemen Kesehatan (DepKes) Ina Hermawati, pola pemberian makan yang salah pada bayi yaitu pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang terlalu cepat (kurang dari 6 bulan) atau terlalu lambat ( lebih dari 6 bulan) dapat menyebabkan kurang gizi  (dikutip dari Nanik, 2009).


    Data yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal pada tahun 2012, bahwa wilayah kerja puskesmas Kangkung 1 Kabupaten Kendal merupakan salah satu Puskesmas dimana jumlah bayi usia 0-6 bulan masih rendah dalam pemberian ASI Eksklusif. Puskesmas Kangkung 1 yang membawahi 7 desa yaitu Gebang Anom, Kadilangu, Jungsemi, Kangkung, Tanjungmojo, Lebosari, dan Rejosari, bahwa masih banyak ibu-ibu yang memberikan makanan pendamping ASI kepada bayinya sebelum usia 6 bulan. Berdasarkan hasil survey dan wawancara terhadap beberapa ibu di desa Jungsemi ditemukan fenomena bahwa masih banyak ibu-ibu yang memberikan makanan pendamping ASI kepada bayinya sebelum usia 6 bulan. Adapun jenis MP- ASI yang diberikan umumnya bubur siap saji. Beberapa bayi yang mendapatkan MP-ASI dini terkena diare, batuk dan pilek.


     


    METODE PENELITIAN 


     


    Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif korelasi yaitu desain yang menggambarkan atau mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara variable satu dengan variabel yang lain. Dengan metode pendekatan cross sectional. Metode cross sectional artinya, tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan. Hal ini tidak berarti bahwa semua subjek penelitian diamati pada waktu yang sama (Notoatmodjo, 2010).


    Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang mempunyai bayi usia 0-6 bulan yang tinggal di Desa Jungsemi Kecamatan Kangkung Kabupaten Kendal. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 43 ibu yang mempunyai bayi berusia 0-6 bulan dengan teknik sampling adalah sampling jenuh. Sampel yang digunakan mempunyai 2 kriteria yaitu Kriteria inklusi :Ibu yang mempunyai bayi berusia 0 – 6 bulan, Ibu yang dapat membaca dan menulis, Ibu yang tidak mengalami gangguan jiwa, Ibu yang bersedia menjadi responden. Sedangkan untuk kriteria ekslusi adalah Ibu yang memiliki bayi berusia 0-6 bulan yang tidak ada di tempat saat pengambilan data.


    `  Penelitian ini dilakukan di Desa Jungsemi Kecamatan Kangkung Kabupaten Kendal pada bulan September 2012 sampai bulan Februari 2013. Alat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan kuesioner tertutup yang terdiri dari: kuesioner karakteristik responden, kuesioner factor yang mempengaruhi pemberian MP-ASI, kuesioner dukungan keluarga, kuesioner tradisi, kuesioner perilaku ibu dalam pemberian MP-ASI dini.


     


     


    HASIL PENELITIAN



    1. Responden Berdasarkan Usia


    Tabel 4.1 Distribusi frekuensi berdasarkan usia responden di Desa  Jungsemi tahun 2013 (n=43)


















    No



    Usia



    Frekuensi



    Persentase (%)



    1


    2


    3



    < 20  tahun


    20– 35 tahun


    > 35 tahun



    23


    13


    7


     



    53,5%


    30,2%


    16,3%


     



     



    1. Responden Berdasarkan Pekerjaan


    Tabel 4.2Distribusi frekuensi berdasarkan pekerjaan responden di Desa Jungsemi tahun 2013 (n=43)


















    No



    Pekerjaan



    Frekuensi



    Persentase (%)



    1


    2


    3


    4



    IRT


    Tani


    Swasta


    PNS



    19


    15


    6


    3



    44,2%


    34,9%


    14,0%


    7,0%



     



    1. Responden Berdasarkan Pengetahuan


    Tabel 4.3Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan responden di Desa Jungsemi tahun 2013 (n=43)


















    No



    Pengetahuan



    Frekuensi



    Persentase (%)



    1


    2



    Baik


    Tidak Baik



    25


    18



    58,1%


    41,9%



     



    1. Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan


    Tabel 4.4 Distribusi frekuensi berdasarkan tingkat pendidikan  responden di Desa Jungsemi tahun 2013 (n = 43)


















    No



    Pendidikan



    Frekuensi



    Persentase (%)



    1


    2



    Pendidikandasar


    Pendidikantinggi



    31


    12



    72,1%


    27,9%



     



    1. Responden Berdasarkan Tradisi


    Tabel 4.5 Distribusi frekuensi berdasarkan Tradisi responden di Desa Jungsemi tahun 2013 (n = 43)


















    No



    Tradisi



    Frekuensi



    Persentase (%)



    1


    2



    Mengikuti


    Tidak mengikuti



    27


    16



    62,8%


    37,2%




    1. Responden Berdasarkan Dukungan Keluarga


    Tabel 4.6 Distribusi frekuensi berdasarkan dukungan keluarga responden di Desa Jungsemi tahun 2013 (n = 43)


















    No



    Dukungan keluarga



    Frekuensi



    Persentase (%)



    1


    2



    Mendukung


    Tidak mendukung



    28


    15



    65,1%


    34,9%




    1. Responden berdasarkan Perilaku


    Tabel 4.7 Distribusi frekuensi responden menurut perilaku di desa Jungsemi  pada tahun 2013 (n =43)


















    No



    Perilaku



    Frekuensi



    Persentase (%)



    1


    2



    Memberi MP-ASI


    Tidak memberi MP-ASI



    30


    13



    69,8%


    30,2%



     


    h. Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Perilaku Ibu Dalam Pemberian MP-ASI Dini


    Tabel 4.8 Hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku Ibu dalam Pemberian MP-ASI Dini di desa Jungsemi pada bulan Februari






































    Pengetahuan



    Perilaku



    Total



    P



    Diberi MP-ASI



    Tidak diberi MP-ASI



    Value



    Baik



    13(30.2%)



    12(27.9%)



    25(58.1%)



    0,003



    Tidak Baik



    17(39.5%)



    1(2.3%)



    18(41.9%)



     



    Total



     



     



    43(100%)



     



     



    1. Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Perilaku Ibu dalam Pemberian MP-ASI Dini


    Tabel 4.9 Hubungan tingkat pendidikan dengan perilaku Ibu Dalam Pemberian MP-ASI Dini di desa Jungsemi pada bulan Februari.






































    Pendidikan



    Perilaku



    Total



    P



    Diberi MP-ASI



    Tidak diberi MP-ASI



    Value



    Dasar



    23(53,5%)



    8(18,6%)



    31(72,1%)



    0,460



    Tinggi



    7(16,3%)



    5(11,6%)



    12(27,9%)



     



    Total



     



     



    43(100%)



     



     



    1. Hubungan Tradisi Dengan Perilaku Ibu Dalam Pemberian MP-ASI Dini


    Tabel 4.10 Hubungan Tradisi dengan perilaku Ibu dalam Pemberian MP-ASI Dini di desa Jungsemi pada bulan Februari.






































    Tradisi



    Perilaku



    Total



    P



    Diberi MP-ASI



    Tidak diberi MP-ASI



    Value



    Mengikuti



    24(55,8%)



    3(7,0%)



    27(62,8%)



    0,001



    Tidakmengikuti



    6(14,0%)



    10(23,3%)



    16(37,2%)



     



    Total



     



     



    43(100%)



     



     


     


     


     



    1. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Perilaku Ibu dalam Pemberian MP-ASI Dini


    Tabel 4.11 Hubungan dukungan keluarga dengan perilaku Ibu Dalam Pemberian MP-ASI Dini di desa Jungsemi pada bulan 2013.






































    DukunganKeluarga



    Perilaku



    Total



    P



    Diberi MP-ASI



    Tidak diberi MP-ASI



    Value



    Mendukung



    23(53,5%)



    5(11,6%)



    28(65,1%)



    0,034



    Tidak mendukung



    7(16,3%)



    8(18,6%)



    15(34,9%)



     



    Total



     



     



    43(100%)



     



     


    PEMBAHASAN



    1. A.     Hubungan Antara Pengetahuan Dengan Perilaku Ibu Dalam Pemberian MP-ASI Dini.


    Berdasarkan hasil uji statistik didapat p value = 0,003 kurang dari nilai  P (<0 ,05) sehingga dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku responden dalam memberikan MP-ASI dini kepada bayinya.


    Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nanik Pristiyani (2009) di Desa Ringinarum Kendal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku Ibu dalam memberikan MP-ASI dini. Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan Ibu baik ada 13(30.2%) dan pengetahuan ibu tidak baik ada 17(39.5%) yang memberikan MP-ASI dini kepada  bayinya. Hasil penelitian ini menunjukan bahwat tingkat pengetahuan ibu-ibu terbilang baik, walaupun begitu masih banyak ibu yang memberikan MP-ASI dini kepada bayinya. Hal ini dimungkinkan karena pengetahuan ibu hanya mempengaruhi cover behaviour. Artinya respon atau reaksi yang terjadi masih terbatas pada perhatian, persepsi, dan sikap, akan tetapi belum bisa diamati secara jelas oleh orang lain (Notoatmodjo, 2003).


    Pengetahuanseseorang biasanya di peroleh dari pengalaman yang berasal dari berbagai macam sumber misalnya media massa, media elektronika, petugas kesehatan  media poster, kerabat dekat, dan sebagainya. Pengetahuan ini dapat membentuk keyakinan tertentu sehingga seseorang berperilaku sesuai dengan keyakinan tersebut.


    Menurut Notoatmojdo (2003), Pengetahuan seseorang salah satunya di pengaruhi oleh budaya atau lingkungan ,pengalaman dan informasi. Lingkungan berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang yang mayoritas respondennya berpengatahuan baik tapi mereka masih tetap memberikan MP-ASI dini. Hal ini di dukung oleh pendapat Notoatmodjo (2003), yang menyatakan bahwa tingkah laku manusia dalam memenuhi kebutuhan meliputi sikap,dan kepercayaan di pengaruhi oleh lingkungan.


    Penelitian ini masih banyak Ibu yang memberikan MP-ASI dini kepada bayinya meskipun Ibu mengetahui pentingnya waktu yang tepat dalam pemberian MP-ASI dimungkinkan karena pengalaman ibu, lingkungan dan tradisi yang berkembang di daerah ibu tinggal.



    1. B.                 Hubungan Antara Pendidikan Dengan Perilaku Ibu Dalam Pemberian MP-ASI Dini.


    Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan perilaku Ibu dalam memberikan MP-ASI dini. Hal ini ditunjukkan pada p value = 0,460 lebih dari nilai P (>0,05), sehingga dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pendidikan dan perilaku.


    Penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh  Solichaturrohmah (2012) di Desa Tambahrejo Pageruyung Kendal yang menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan pemberian MP-ASI pada bayi usia 0-6 bulan. Saefudin (2006) menyatakan tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan lebih cepat menerima dan memahami adanya informasi yang disampaikan dibanding dengan yang berpendidikan lebih rendah (Solichaturrohmah, 2012). Semakin tinggi tingkat pendidikan ibu semakin mudah ia menyerap informasi gizi dan kesehatan sehingga pengetahuan yang tinggi dapat meningkatkan daya tangkap ibu terhadap adanya masalah gizi di dalam keluarga maupun tindakan secepatnya ( Aryani, 2008)


    Meskipun tidak menutup kemungkinan dengan pendidikan yang lebih tinggi akan meningkatkan daya serap pengetahuan dan perilakusehat. Akan tetapi dalam penelitian ini tingkat pendidikan tidak berhubungan dengan perilaku Ibu dalam pemberian MP-ASI dini karena terpengaruh oleh kebiasaan-kebiasaan (tradisi) yang ada di masyarakat.



    1. C.                Hubungan Antara Tradisi  Dengan Perilaku Ibu Dalam Pemberian MP-ASI Dini.


    Berdasarkan hasil uji statistik didapat p value = 0,001 kurang dari nilai P (<0 ,05) sehingga dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara tradisi dengan perilaku responden dalam memberikan MP-ASI dini kepada bayinya. 


    Penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nanik Pristiyani (2009) di Desa Ringinarum Kendal, yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara tradisi dengan perilaku Ibu dalam memberikan MP-ASI dini. Di daerah pedesaan (Jawa) kebanyakan masyarakat memberikan nasi atau pisang atau madu sebagai makanan dini sebelum bayi berumur 6 bulan. Bahkan pemberian tersebut dilakukan beberapa saat setelah bayi lahir. Penyebabnya adalah kebiasaan masyarakat yaitu adanya kekerabatan social dari tetangga yang datang pada waktu ibu melahirkan dan mereka memberikan ASI dan madu dengan alasan kepercayaan tertentu ( Reny, 2006).


    Dalam penelitian ini banyak ibu yang masih memberikan makanan tambahan untuk bayi , karena selain ibu beranggapan bahwa anak akan menangis, rewel dan kelaparan bila tidak diberi makan, juga menurut pengalaman ibu terdahulu bahwa anak akan baik-baik saja walau diberi makanan pendamping ASI sebelum waktunya.



    1. D.                     Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Perilaku Ibu Dalam Pemberian MP-ASI Dini.


    Berdasarkan hasil uji statistik didapat p value = 0,034 kurang dari nilai P (<0 ,05) sehingga dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan perilaku responden dalam memberikan MP-ASI dini kepada bayinya.


    Keluarga merupakan pelaku aktif dalam memodifikasi & mengadaptasi komunikasi keluarga dalam hubungan personal untuk mencapai keadaan berubah. Dukungan dari dalam keluarga diantaranya kemampuan memberikan penguatan satu sama lain, kemampuan keluarga dalam menciptakan suasana saling memiliki.  Kemampuan merawat diri adalah kemampuan anggota keluarga bertanggung jawab atas masalah-masalah kesehatan, kemampuan anggota keluarga dalam menjaga kesehatan mereka sendiri (Afifatun, 2009).


    Dalam penelitian ini peran penting keluarga atau dukungan keluarga sangat berpengaruh terhadap perilaku ibu dalam pemberian MP-ASI dini kepada bayinya, karena keluarga mampu mendukung dalam bentuk emosional, penghargaan, instrumental,  dan informasi. Semua dukungan keluarga mampu memberikan ibu untuk memberikan MP-ASI kepada bayinya. Dukungan tersebut memang sangat berarti untuk seorang ibu yang mempunyai bayi, tapi lebih baik lagi jika dukungan tersebut disertai dengan pengetahuan yang baik tentang pentingnya pemberian makanan pendamping ASI sesuai waktu yang tepat. 


     


        Simpulan dan Saran


    Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai Faktor-faktor  yang Mempengaruhi Perilaku Ibu dalam Pemberian MP-ASI dini di Desa Jungsemi Kecamatan Kangkung Kabupaten Kendal, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.


    1. Sebagian besar responden mempunyai pengetahuan baik sebanyak 25 responden (58,1%).


    2. Sebagian besar responden memiliki latar belakang pendidikan dasar sebanyak 31 responden (72,1%)


    3.  Sebagian besar responden mengikuti tradisi ada 27 responden (62,8%)


    4. Sebagian besar responden yang mendapat dukungan keluarga untuk memberikan MP-ASI dini ada 28 responden (65,1%) 


    5. Sebagian responden yang memiliki perilaku memberikan MP-ASI sebanyak 30 responden (69,8%)


    6. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku Ibu dalam Penberian MP-ASI dini (p value = 0,003)


    7. Tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan perilaku Ibu dalam memberikan MP-ASI dini (p value = 0,460)


    8. Terdapat hubungan yang signifikan antara tradisi dengan perilaku ibu dalam memberikan MP-ASI dini (p value = 0,001).


    9. Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan perilaku ibu dalam memberikan MP-ASI dini (p value = 0,034)


    Penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan jumlah responden yang lebih banyak sehingga generalisasinya memadahi. Selain itu juga penelitian selanjutnya dapat menambah faktor lain yang selain disebut dalam penelitian ini (pengetahuan, pendidikan, tradisi dan dukungan keluarga) Misalnya : Sosial ekonomi dan pengaruh iklan/promosi MP-ASI.


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


    DAFTAR PUSTAKA


     


    Afifatun. 2009. Dukungan Keluarga Dalam Upaya Pencegahan Penyakit TB. Kendal:    STIKES Kendal.


    Anditia,R. 2010. 101 Hal Penting Merawat Bayi yang Wajib Anda Ketahui. Jogjakarta :Katahati.


    Aryani,wahyu. 2010. Aneka menu sehat bayi.Yogyakarta :Insania.


    Felicia, nadia.2010. Kapan Saat Tepat Perkenalkan MP-ASI Pada Bayi? .http://female.kompas.com/read/2010/04/22/12301762/Kapan.Saat.Tepat.Perkenalkan.MP-ASI.Pada.Bayi. Diakses 20 november 2012.


    Hidayat, Aziz Alimul. (2008). Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta : Salemba Medika


     Hermina1 and Nurfi Afriansyah.(2010). Hubungan praktik pemberian asi eksklusif dengan Karakteristik sosial, demografi dan faktor informasi Tentang asi dan mp-asi. http://digilibampl.net/detail/detail.php?row=4&tp=artikel&ktg=sanitasi&kd_link=&kode=211, diakses pada tanggal 31 oktober 2012


    Kristiyanasari ,W.2010. Gizi ibu hamil. Yogyakarta :Nuhamedika.


    Maulana,M. 2010. Cara Cerdas Menghadapi Kehamilan & Mengasuh Bayi.Jogjakarta : Katahati.


    Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta


    Notoatmodjo,S. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : rineka cipta.


    Notoatmojo,S.2010.Promosi Kesehatan teori & praktik. Jakarta :Rinekacipta


    Nursalam. (2003). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Keperawatan, Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Keperawatan.  Jakarta : Salemba Medika 


    Proverawati ,A&sitiasfuah. 2009. Gizi untuk Kebidanan. Yogyakarta :Nuhamedika.


    Rahmah & titik s. 2011. Faktor-faktor yang mempengaruhi motovasi ibu hamil menyusui secara Eksklusif di Puskesmas Kasihan 1 Bantul Yogyakarta.Yogyakarta : Mutiara Medika.


    Reny,K. 2006. Karakteritik yang mempengaruhi pemberian makanan pendamping asi ( mp asi) dini pada bayin umur 0-6 bulan. Dikutip dari Nanik pristyani 2009


    Saryono. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan.Jogjakarta : Mitra Cendikia.


    Septariani, NH. 2007. Pengetahuan,sikap dan dukungan suami pada pengguna kb pil oral kombinasi sebagai alat kontrasepsi di desa purwokerto kecamatan Brangsong kabupaten Kendal. Kendal : Stikes Kendal


    Setyowati,e & faizah. 2008.Jurnal Berita Ilmu Keperawatan. Surakarta :PSIK UMS


    Soenardi,T.2011.Makanan untuk tumbuh kembang bayi. Tuti soenardigramedia PT.


    Soetjiningsih.2002. Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Jakarta : CV .SagungSeto.


    Solicaturrohmah,D. 2012. Karakteristik ibu yang berhubungan dalam  pemberian makanan pendamping asi pada bayi usia 0-6 bulan di desa Tambahrejo kecamatan Pageruyung kabupaten Kendal. Kendal : Stikes Kendal


    Soraya,L. 2005. Resiko pemberian mpasi terlalu dini, dari http://dir.groups.yahoo.com/group/Bayi-Kita/message/18468


    Utomo ,budi. 2007. KESMAS JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT NASIONAL.Depok : FKM UI.


    Wahyudi,MZ. 2012. ASI MP ASI pertama untuk bayi enam bulan ,dari httpHYPERLINK "http://www.kompas.com/"://www.kompas.com. Diakses pada tanggal 2 oktober 2012.


    Wasis. (2008). Pedoman Riset Praktis Untuk Profesi Perawat. Jakarta : EGC


    Yuliarti,N.2010. Keajaiban ASI. Yogyakarta : C.V ANDI OFFSET

    Berita Kemahasiswaan

    Pengumuman Pengambilan KHS Semester genap 2014/2015

    2015-09-19 - 03:42:am | Kategori Kemahasiswaan | oleh dona

    Diberitahukan kepada semua mahasiswa Stikes Kendal, Bahwa Pengambilan KHS Semester genap 2014/2015 dilakukan di BAAK dengan menunju.....Baca Selanjutnya

    Lokakarya Pengembangan Karakter Bagi Mahasiswa 2015 (masih ada kuota angkatan II)

    2015-09-08 - 11:48:am | Kategori Kemahasiswaan | oleh dona

    Dalam rangka mengembangkan potensi dan jiwa kepemimpinan mahasiswa yang antara lain diwujudkan dalam sikap, perilaku dan kepribadianyang .....Baca Selanjutnya

    Berita Kegiatan

    WORKSHOP PENULISAN ARTIKEL ILMIAH DAN MANAJEMEN TATAKELOLA JURNAL ONLINE STANDAR TERAKREDITASI

    2017-12-21 - 04:24:pm | Kategori Kegiatan | oleh livina

    Kendal (25/11), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan  Kendal (LPP.....Baca Selanjutnya

    PELATIHAN BASIC TRAUMA DAN CARDIAC LIFE SUPPORT (BTCLS) STIKES KENDAL

    2015-11-11 - 02:37:pm | Kategori Kegiatan | oleh rya

    Memasuki dunia kerja di era globalisasi, sangat dibutuhkan ilmu dan skill, dua prasyarat tersebut sering dituntut oleh perusahaan, instan.....Baca Selanjutnya

    Berita Akademik
    Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal
    Jl. Laut No. 31A Kendal Jawa Tengah 51311
    Telp: 0294-381343 fax :0294-381834 email : info@stikeskendal.ac.id